Leadership
Power
Kekuasaan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
mempengaruhi orang lain dalam mencapai sesuatu dengan cara yang diinginkan.
Kekuasaan tak luput hubungannya dengan organisasi dan kepemimpinan. Dalam suatu
organisasi sebagai wadah yang memiliki struktur, dimana terdapat seorang
pemimpin sebagai atasan dan orang yang dipimpin sebagai bawahannya pasti
terdapat didalamnya kekuasaan serta kepemimpinan. Pada kekuasaan selalu
melibatkan hubungan antara dua orang atau lebih, karena kekuasaan selalu
melibatkan interaksi sosial antar beberapa pihak, lebih dari satu pihak. Dengan
demikian seorang individu atau kelompok yang terisolasi tidak dapat memiliki
kekuasaan karena kekuasaan harus dilaksanakan atau mempunyai potensi untuk
dilaksanakan oleh orang lain.
Sumber-sumber
power :
Sumber-sumber power dibagi menjadi 2 , yaitu :
a) Formal Power
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi seorang
individu dalam sebuah organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan
untuk memaksa atau member imbalan, atau dari wewenang formal.
·
Reward Power
Tipe kekuasaan ini
memusatkan perhatian pada kemampuan untuk memberi imbalan, pekerjaan atau tugas
yang dilakukan oleh orang lain.
Contoh: ia
dapat menaikkan jabatan, memberikan bonus, menaikkan gaji, atau hal-hal positif
lainnya.
·
Coercive Power
Kekuasaan ini bertipe
paksaan, dan lebih memusatkan pandangan pada kemampuan untuk memberi hukuman
kepada orang lain. Tipe ini banyak digunakan bawahan untuk melakukan tindakan
balas dendam atas perlakuan atau hukuman yang dirasakannya tidak adil, bahkan
sangat mungkin bawahan atau karyawan akan meninggalkan pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya.
Contoh: Ditingkat
organisasi, A memiliki kekuasaan koersif atas B jika A dapat memberhentikan,
menunda, atau menurunkan pangkat B, dengan asumsi B menghargai pekerjaannya.
Demikian pula, jika A dapat menugasi B dengan aktivitas kerja yang tidak
menyenangkan B atau mengancam B sedemikian sehingga B dipermalukan, dapat
dikatakan bahwa A memiliki kekuasaan koersif atas B.
·
Legitimate Power
Kekuasaan yang sah adalah
kekuasaan yang sebenarnya (actual power), ketika seseorang melalui suatu
persetujuan dan kesepakatan diberi hak untuk mengatur dan menentukan perilaku
orang lain dalam suatu organisasi. Tipe kekuasaan ini bersandar pada struktur social
suatu organisasi, dan terutama pada nilai-nilai kultural.
Contoh: Anggota organisasi
biasanya akan mendengarkan dan melaksanakan apa yang
dikatakan
oleh pemimpinnya, karena ia memiliki kekuasaan formal dalam organisasi yang
dipimpinnya.
b) Personal Power
·
Referent Power
Tipe kekuasaan ini
didasarkan pada satu hubungan ‘kesukaan’, yang seseorang dapat mengidentifikasi
orang lain yang mempunyai kualitas atau persyaratan seperti yang diinginkannya.
Contoh:
seorang dengan kepribadian menarik, sering dijadikan contoh atau model oleh
orang lain dalam berperilaku.
·
Expert Power
Kekuasaan yang berdasar pada
keahlian ini, memfokuskan diri pada suatu keyakinan bahwa seseorang yang
mempunyai kekuasaan, pastilah ia memiliki pengetahuan, keahlian dan informasi
yang lebih banyak dalam suatu persoalan.
Contoh: Misalnya
seorang ahli computer yang bekerja pada sebuah perusahaan, atau seorang
karyawan yang memiliki kemampuan menggunakan 2 atau 3 bahasa internasional,
akan memiliki expert power karena sangat dibutuhkan oleh perusahaannya.
Ketergantungan
·
Nilai Penting (Importance)
Jika tak seorang pun menginginkan yang anda
miliki, ketergantungan pada anda tidak akan tercipta. Karena itu, untuk
menciptakan ketergantungan, hal-hal yang anda control haruslah hal-hal yang
dipandang penting.
Contoh: pada perusahaan Matsushita, yang sangat berorientasi pada teknologi,
para insinyur yang berperan mempertahankan keunggulan dan kualitas produk
dianggap sebagai kelompok yang paling berkuasa. Namun pada perusahaan Procter
and Gamble, para tenaga pemasaran (bagian marketing) dianggappaling berkuasa
karena mereka adalah kelompok yang mampu
menurunkan ketidakpastian.
·
Kelangkaan (Scarcity)
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, jika sesuatu itu berjumlah banyak,
kepemilikaan atasnya akan meningkatkan derajat kekuasaan anda. uatu sumber daya
harus dilihat sebagai sesuatu yang langka guna menciptakkan ketergantungan. Ini
dapat membantu menjelaskan bagaimmana para bawahan dalam sebuah organisasi yang
memiliki pengetahuan penting yang terakhir ini.
Contoh: guru yang mengajar komputer sangat
banyak dibutuhkan, namun yang mau menjadi guru komputer sangat sedikit,
sehingga seorang guru komputer memiliki daya tawar (bargaining power) yang
besar.
·
Keadaan Tak tergantikan (Nonsubstitutability)
Semakin sedikit pengganti yang tersedia bagi suatu sumber daya, semakin
besar kekuasaan yang diberikan oleh control atas sumber daya tersebut.
Pendidikan yang lebih tinggi sekali lagi menyediakan contoh yang sempurna. Contoh: dii universitas-universitas dimana ada
tekanan yang kuat bagi tenaga pengajar untuk menerbitkan karya mereka, kita
dapat mengaatakan bahwa kekuasaan seorang kepala jurusan atas seorang tenaga
pengajar berkorelasi terbalik dengan banyaknya publikasi tenaga pengajar yang
bersangkutan.
Taktik-Taktik Power :
1. Persuasi Rasional (Rational Persuasion)
terjadi
jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan alasan yang logis dan
bukti-bukti nyata agar orang lain tertarik.
2. Daya-tarik Inspirasional (Inspirational Appeals)
terjadi
jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan suatu permintaan atau
proposal untuk membangkitkan antusiasme atau gairah pada orang lain. Misalnya
dengan memberikan penjelasan yang menarik tentang
nilai-nilai yang diinginkan, kebutuhan, harapan, dan aspirasinya.
3.
Konsultasi
(Consultation)
terjadi jika seseorang mempengaruhi
orang lain dengan mengajak dan melibatkan orang yang dijadikan target untuk
berpartisipasi dalam pembuatan suatu rencana atau perubahan yang akan
dilaksanakan.
4.
Mengucapkan
kata-kata manis (Ingratiation)
terjadi jika seseorang mempengaruhi orang
lain dengan menggunakan kata-kata yang membahagiakan, memberikan pujian, atau
sikap bersahabat dalam memohon sesuatu.
5.
Daya-tarik
Pribadi (Personal Appeals)
terjadi jika seseorang mempengaruhi
orang lain atau memintanya untuk melakukan sesuatu karena merupakan teman atau
karena dianggap loyal.
6.
Pertukaran
(Exchange)
terjadi jika seseorang mempengaruhi
orang lain dengan memberikan sesuatu keuntungan tertentu kepada orang yang
dijadikan target, sebagai imbalan atas kemauannya mengikuti suatu permintaan
tertentu.
7.
Koalisi
(Coalitions)
terjadi jika seseorang meminta
bantuan dan dukungan dari orang lain untuk membujuk atau sebagai alasan agar
orang yang dijadikan target setuju.
8.
Tekanan
(Pressure)
terjadi jika seseorang mempengaruhi
orang lain dengan menggunakan ancaman, peringatan, atau permintaan yang
berulang-ulang dalam meminta sesuatu.
9.
Mengesahkan
(Legitimacy)
terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain
dengan menggunakan jabatannya, kekuasaannya, atau dengan mengatakan bahwa suatu
permintaan adalah sesuai dengan kebijakan atau aturan organisasi.
Leadership
Definisi Leadership
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses
mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah
ditugaskan kepada mereka. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan kepada
apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana para pemimpin
menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai,
bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan
tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi.
Adapun dari sisi atribut,
kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik
yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat
didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi
perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang
dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka. Selain
itu banyak juga pendapat dari para
Traits Theory
Salah satu berbagai analisis kepemimpinan
adalah teori sifat (trait theory) dimana penelitian mencoba memusatkan
pada pelaku kepemimpinan yaitu pemimpin itu sendiri. Perkembangan teori ini
terus terjadi dan banyak memperoleh perhatian karena menawarkan pendekatan
pragmatis, sesuatu yang bisa dijadikan contoh secara instan bagi seseorang yang
berada dalam posisi sebagai pemimpin. Individu yang dikenal sebagai pemimpin
seperti Hitler, Mussolini, Sukarno, Mahatma Gandhi dipelajari secara khusus menyangkut
karakteristik-karakteristik sifat, sehingga menjadikan mereka menonjol sebagai seorang
pemimpin.
.
Diantaranya yang dilakukan Davis (1972), dengan
memunculkan empat ciri utama yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap
kesuksesan kepemimpinan didalam organisasi yaitu pertama, kecerdasan
(intellegence) dimana seorang pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih
tinggi dari pengikutnya, kedua, kedewasan sosial dan hubungan sosial
yang luas (social maturity and breadth), yaitu pemimpin cenderung
mempunyai emosi stabil, dewasa dan matang serta mempunyai kegiatan luas, ketiga,
motivasi diri dan dorongan berprestasi, yaitu pemimpin mempunyai karakter
dorongan instrinsik yang lebih kuat dari pada ekstrinsik ketika menjalankan
peran-peran kepemimpinan dan keempat, sikap-sikap hubungan manusiawi
yaitu, seorang pemimpin serta berorentasi pada pengikutnya.
Teori Perilaku (The Behavioral Theory)
Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas
kepemimpinan melalui teori “trait”, para peneliti pada era Perang Dunia ke II
sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti
“behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan
efektivitas kepemimpinan. Fokus pembahasan teori kepemimpinan pada periode ini
beralih dari siapa yang memiliki kemampuan memimpin ke bagaimana perilaku
seseorang untuk memimpin secara efektif.
Contingency
Theory
The Fiedler Model
The Fiedler Contingency Model mendefinisikan bahwa efektivitas sebuah
operasional grup bergantung pada
kecocokan atau kesesuaian antara leader style dan tingkatan situasi di
mana leader tersebut memegang kontrol.
Identifikasi Leadership Style
Fred Fiedler menggunakan kuisioner LPC (least preferred co-worker)
untuk menentukan seseorang apakah tergolong dalam task oriented atau relation
oriented.
Skala dalam kuisioner berupa faktor kepribadian seorang leader, seperti
menyenangkan - tidak menyenangkan, ramah - tidak ramah, terbuka - tertutup.
Maka semakin tinggi skor LPC seseorang, dia akan tergolong dalam task oriented.
Dan semakin rendah skor LPC, maka dia tergolong relation oriented.
Mendefinisikan Situasi
Setelah mendapatkan jenis
leadership style, maka kita akan mencocokkan dengan tiga dimensi situasi
berikut :
a) Leader-member relations
Tingkat kepercayaan diri, rasa percaya, rasa hormat anggota
kepada leader mereka
b) Task structure
Tingkatan sejauh mana sebuah tugas atau pekerjaan telah
diproseduri
c) Position power
Tingkatan dari pengaruh seorang leader
terhadap beberapa variabel di perusahaan.
Mencocokkan Leaders dan Situasi
Mengkombinasikan tiga dimensi situasi di atas
didapatkan 8 jenis situasi yang bisa dikategorikan menjadi situasi sangat
menguntungkan, moderate, dan sangat tidak menguntungkan. Fiedler mendapatkan
bahwa task oriented leader lebih memiliki performansi yang efektif saat situasi
sangat menguntungkan dan situasi sangat tidak menguntungkan (situasi I, II,
III, VII, dan VIII). Sedangkan relation oriented leader akan memiliki
performansi lebih efektif saat situasi moderate (situasi IV, V, dan VI)
Dan dapat disimpulkan pula bahwa task oriented
leader pilihan terbaik saat situasi di mana posisi kontrol tinggi dan kontrol
rendah. Sedangkan relation oriented leader pilihan terbaik saat posisi kontrol
sedang (moderate).
Evaluasi
Meskipun Fiedler Model telah memiliki bukti yang
cukup untuk mendukung teorinya, namun modelnya masih sulit untuk diterapkan
karena dimensi situasi tersebut masih sulit untuk didefinisikan secara jelas.
Dan bisa juga skor LPC itu bersifat bias atau subjektif.
Teori
Contingency Lainnya
Situational Leadership Theory (SLT)
bahwa leader yang sukses dapat
dicapai dengan memilih style leadership
yang tepat sesuai dengan kesiapan followernya. Maka seorang leader harus
memilih style yang tepat dari 4 kemungkinan situasi yang bisa terjadi :
- Followers tidak mampu (unable) dan tidak
berniat (unwilling) untuk mengerjakan tugas, maka leader perlu menunjukkan arah
dan tujuan dengan jelas serta spesifik.
- Followers tidak mampu (unable), namun masih
ada niat (willing) untuk mengerjakan tugas, maka leader perlu bersikap high
task orientation agar menjadi contoh bagi follower yang tidak bisa mengerjakan
tugas, serta bersikap high relationship orientation agar bisa mengajak follower
bekerjasama.
- Followers mampu (able), tapi tidak berniat
(unwilling) untuk mengerjakan tugas, maka leader harus bersikap mendukung dan
aktif berpartisipasi.
- Followers mampu (able) dan berniat (willing)
untuk mengerjakan tugas, maka leader tidak perlu berbuat banyak.
Path-Goal Theory
pekerjaan seorang leader adalah menyediakan informasi,
support, dan resources lain kepada follower yang berguna untuk mencapai tujuan
mereka. Berdasarkan teori ini, ditentukan kapan dan bagaimana seorang sikap
seorang leader :
- Directive leadership :
sangat menguntungkan saat situasi di
mana tugas masih ambigu dan membuat stress.
- Supportive leadership :
menghasilkan performansi dan kepuasan
yang bagus jika tugas dan pekerjaan jelas dan terstruktur
- Directive leadership : yang memiliki kelebihan disbanding karyawan
lainnya.
Masalahnya path-Goal theory sangat sulit dites
mengenai keefektifitasannya karena teori ini sangatlah kompleks
Leader-Participation Model
Model ini mengatakan bahwa bagaimana cara membuat
keputusan sama pentinganya dengan apa yang telah diputuskan oleh leader
tersebut.
Leader-Member
Exchange (LMX) Theory
Teori ini mengatakan bahwa leader membuat sebuah
relation yang special terhadap beberapa individu yang berada dalam
organisasinya. Individu - individu ini menerima kepercayaan dari leader, diberikan
perhatian khusus, dan diberikan tanggung jawab dan hak khusus dalam organisasi.
Charismatic Leadership
Definisi
Karisma menurut Max Weber adalah sebuah kualitas
yang dimiliki seseorang yang bisa membedakan dari orang - orang biasa, orang
tersebut akan mendapat perlakuan seperti seorang pahlawan atau manusia super
karena kualitas dirinya.
karakteristik yang menyebabkan seseorang memiliki
karisma, antara lain sebagai berikut : Memiliki visi, Berani mengambil resiko
untuk diri sendiri, sangat perhatiaan akan kebutuhan followernya, dan memiliki
perilaku yang tidak biasa.
Karisma : Bakat Alami atau Bisa Dipelajari
Ada pendapat bahwa karisma adalah anugerah yang
didapatkan sejak lahir dan merupakan bakat khusus yang tidak bisa dimiliki
setiap orang. Fakta membuktikan bahwa karisma diturunkan dapat dilihat dari
studi kembar identik yang memiliki karakteristik karisma yang sama.
Beberapa ilmuwan mencoba untuk memberikan
pelajaran untuk mendapatkan karisma ini. Seorang penulis mengatakan bahwa
karisma bisa didapatkan dengan 3 proses, yaitu :
- Membangun aura karisma dengan pandangan
optimistic, menggunakan passion untuk membangun entusiasme, dan menggunakan
semua badan untuk berkomunikasi
- Mengajak semua orang dengan menginspirasi
mereka
- Mengeluarkan potensi para follower dengan
menyentuh mereka secara emosi.
Bagaimana Karismatik Leader Mempengaruhi Follower
Mereka
Ada empat tahap bagaimana bisa para follower
terpengaruhi oleh seorang karismatik leader, antara lain sebagai berikut :
a) Membuat
sebuah visi yang menjanjikan
b) Membuat
vision statement yang digunakan untuk meraih visi tersebut
c) Melalui
perkataan dan tindakan, menciptakan nilai dan value baru
d) Melakukan
tindakan nyata untuk mencapai visi tersebut yang dapat menginspirasi
Apakah Karismatik Leadership Bergantung
pada Situasi?
Penelitian menunjukkan bahwa karismatik
leadership memiliki korelasi dengan performance yang baik dan kepuasan pada
follower mereka. Orang yang bekerja untuk karismatik leader lebih termotivasi
untuk bekerja lebih baik karena mereka sangat menghormati leader mereka. Tetapi
karisma tidak bisa disamaratakan efektif untuk setiap saat. Ada situasi di mana
karisma bisa efektif sekali, yaitu situasi di mana pekerjaan para follower
memiliki nilai ideologis atau kondisi lingkungan yang sangat tidak pasti dan
memberikan tekanan yang tinggi. Namun, karisma bisa terbatasi karena formalitas
jabatan organisasi.
Transformational Leadership
- Transactional Leader
·
Contingent reward : menilai
pekerjaan dengan nilai gaji dan penghargaan.
·
Management by Exception : melihat
dan mencari kesalahan pada standard an peraturan, lalu membenarkannya;
Melakukan intervensi jika standar tidak dilakukan.
·
Laissez-Faire : Lepas tanggung
jawab, dan menghindari membuat keputusan.
Transformational Leader
- · Idealized influence : Memberi sebuah visi dan misi, harga diri, mendapatkan respect dan kepercayaan.
- · Inspirational Motivation : Mengkomunikasikan ekspetasi tinggi, mengekspresikan tujuan penting dalam cara yang simple.
- · Intellectual Stimulation : Cerdas, rational, dan problem solving dengan hati – hati.
- · Individualized Consideration : Perhatian secara personal kepada karyawan.
Singkatnya, transformational leader memang
ada kesamaan dengan transactional leader, namun transformational leader bisa
mengurangi tingkat turnover karyawan, tingkat produktivitas yang meningkat,
mengurangi tingkat stress karyawan dan meningkatkan kepuasan karyawan.
Transformational leadership dan Charismatic leadership memiliki banyak
kesamaan. Dari model ini, pemimpin biasanya paling efektif adalah ketika mereka
menggunakan setiap transformational behaviors secara teratur atau reguler.
Authentic Leadership
Authentic leader meletakkan kualitas dari
kepercayaan. Nila moral juga menjadi fokus dalam proses memimpin mereka.
Ethic and Leadership
Dalam kepemimpinan seorang pemimpin juga
harus memiliki pedoman etika supaya pengikutnya dapat menilai keefektifan pemimpin
tersbut dalam mencapai misi dan nilai moral yang tertanam.
Trust and Leadership
Trust adalah kondisi psikologi di mana seseorang menyerahkan keadaan pada
orang lain dan mengharapkan sesuatu yang positif dengan melakukan hal tersebut.
How is Trust Developed
Trust bisa dibangun bukan hanya berasal dari leader saja, tapi juga
dipengaruhi oleh karakteristik dari masing - masing follower. Ada tiga kunci
karakteristik yang membuat kita untuk bisa mempercayai seorang leader, yaitu :
- Integrity adalah kejujuran dan benar -
benar sesuai keadaan sebenarnya. Merupakan kunci penting dalam membangun
kepercayaan.
- Benevolence adalah orang yang dipercayai
memberikan perhatian kepada para follower mereka dengan khusus dan secara
personal.
- Ability adalah bahwa orang tersebut
telah memiliki kemampuan baik secara teknis maupun pengetahuan interpersonal.
Trust as a Process
Trust propensity adalah kecenderungan seseorang untuk meletakkan
kepercayaan kepada seorang leader. Trust
propensity ini juga bergantung pada factor waktu. Seiring dengan waktu
berjalan, maka para karyawan akan menilai dan mempertimbangkan apakah leadernya
sudah memiliki Integrity, Benevolence,
dan Ability untuk memimpin mereka.
Yang paling penting jangan merusak trust yang telah terbangun karena jika
leader pernah mengecewakan para follower atau karyawannnya, maka trust sangat
sulit untuk dibangun kembali.
Konsekuensi dari Trust
Ada beberapa hasil positif jika
trust telah terbangun antara leader dengan karyawan, antara lain sebagai
berikut :
- Trust
mendorong untuk mengambil resiko, karyawan akan merasa lebih berani untuk
mengambil resiko dan keluar dari rutinitas, bahkan mereka akan lebih berani
untuk mengikuti perkataan leader yang keluar dari kebiasaan rutinitas.
- Trust
membentuk pertukaran informasi, karyawan akan lebih berani untuk
mengeluarkan pendapat karena mereka merasa leader akan mendengarkan ide dan
pendapat mereka secara adil
- Grup
yang dipercayai akan lebih efektif, Grup tersebut akan semakin membantu dan
mensupport satu sama lain yang akan semakin meningkatkan kepercayaan antar
anggota grup.
- Trust
meningkatkan produktivitas, Karyawan yang telah mempercayai leader akan
meningkatkan produktivitas dan kinerja mereka untuk perusahaan.
Mentoring
Biasanya leader memiliki tanggung jawab dan berusaha untuk melahirkan
leader - leader baru di masa depan. Mentor adalah seorang karyawan senior yang
menjadi penyokong dan mensupport seorang karyawan baru atau yang masih minim
pengalaman. Para karyawan junior yang
dimentori akan diberikan beberapa tugas yang menantang. Jika berhasil dalam
tugas tantangannya, maka si mentor akan mendekatinya dan memberikan cara - cara
yang bisa dilakukan di luar kebiasaan organisasi. Tujuan utama mentoring
seperti meningkatnya produktivitas kerja tidak bagitu terasa. Mentor bisa
memberikan efek positif bukan dari fungsinya tapi dari resource (sumber) yang
bisa didapatkan oleh sang junior
Mencari
dan Mencetak Leader yang Effective
Selecting Leaders
Untuk mengisi posisi leader yang kosong, perusahaan pasti akan memulai
penilaian dengan melihat dari pengetahuan, kemampuan yang dibutuhkan untuk
melakukan pekerjaan secara efektif. Test kepribadian bisa digunakan untuk
mengecek apakah para calon yang akan dipilih memiliki karakteristik sebagai
leader (The Big Five Personality Traits). Pengalaman merupakan indikator yang kurang bisa
diandalkan untuk menentukan efektifitas leader. Yang diperlukan sebagai
indicator adalah pengalaman untuk menghadapi situasi spesifik dan menilai
bagaimana seorang calon leader bisa menyesuaikan behaviornya dengan situasi
yang terjadi.
Training Leaders
Pelatihan
leadership apapun akan lebih efektif dengan cara high-self monitor, yaitu
dengan cara merubah perilaku dalam merespon situasi yang terjadi. Yang kedua,
pelatihan sebaiknya tidak mengajarkan pembuatan
visi, tapi mengajarkan implementasi skill untuk membuat misi yang sesuai
dengan keadaan.
Global Implications
Berikut adalah studi tentang
leadership dari beberapa negara yang dipengaruhi oleh kultur di negara tersebut
:
a) Brazil,
Pekerja Brazil menyukai leader yang team-oriented, partisipatif, dan perhatian.
Leader harus membuat semua timnya bisa berpartisipasi dalam pembuatan
kesempatan.
b) Perancis,
pekerja Perancis lebih menyukai leader yang task-oriented dan bersikap lebih
formal dalam mengurus organisasinya. Leader yang people oriented akan sulit
diterima.
c) Mesir,
pekerja Mesir menyukai leader yang partisipatif dan team-oriented, namun mereka
menginginkan ada hubungan yang jelas antara bawahan dan leader.
d) Cina,
Pekerja Cina menyukai leader yang sopan, perhatian, dan tidak egois sesuai
dengan budaya mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar