Rabu, 26 Maret 2014

Perception and Individual Decision Making

Persepsi
Suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi:
Factor in situation:
l  Time
l  Work setting
l  Time setting
Factor in target:
l  Novelty
l  Motion
l  Sounds
l  Size
l  Background
l  Proximity
l  Similarity
Factor in perceived
l  Attitudes
l  Motives
l  Interests
l  Experiences
l  Expectations



Teori Atribusi
Sebuah usaha untuk menjelaskan apakah perilaku individu di sebabkan oleh faktor eksterna atau faktor internal.

Contoh: Seorang kasir yang memasang wajah senang ketika melayani pelanggan.

Dalam teori ini, perilaku seseorang bisa disebabkan oleh factor internal (sifat, motif, intense), factor eksternal (aspek-aspek fisik dan social) maupun kombinasi keduanya. Menurut teori ini, ada 3 sumber informasi penting untuk menjawab mengapa dalam perilaku orang lain, yaitu:

1.  Konsensus

Melihat bagaimana orang yang berbeda merespon stimulus yang sama.  Misalnya, dalam suatu pesta perkawinan, banyak orang menggunakan dasi yang sama bila menghadiri pesta, karena pesta perkawinan itu acara resmi.

2.  Kekhasan

Apakah orang yang sama memberikan reaksi yang berbeda terhadap situasi yang berbeda. Dalam kasus pemakaian dasi di atas, orang akan tetap menggunakan dasi meskipun berada pada situasi yang bukan pesta.

3.  Konsistensi

Apabila orang yang sama melakukan hal yang sama pula ketika berada dalam situasi yang sama. Dalam kasus pemakaian dasi, orang dinyatakan menunjukkan konsistensinya apabila orang yang memakai dasi tadi juga melakukan dasi pada pesta perkawinan selanjutnya.

Fundamental Attribution Error
Pada bias ini seseorang cenderung memfokuskan pada peran personal sebagai penyebab perilaku dan cenderung berestimasi rendah atas dampak situasi
Contohnya, dalam sebuah eksperimen sekelompok orang diminta memainkan kuis dimana setiap dua orang dipasangkan secara acak yang kemudian diberi tugas masing-masing sebagai penanya dan yang lainya sebagai kontestan/penjawab. Setelah selesai kedua kelompok diminta menilai tingkat pengetahuan umum pasangan masing-masing. Tentu, para kontestan menilai penanya masing masing sebagai orang yang lebih pintar dari mereka

Pengutamaan diri sendiri (self –serving bias)
Kecenderungan untuk membenarkan dirinya sendiri dan orang lain   dianggap salah.
Contoh: seorang mahasiswa tidak lulus dalam sidang skripsi. Masih di dalam ruang sidang, ia menyalahkan adiknya yang menurutnya telah mengajarkan metode statistik yang salah. Keluar dari ruang sidang, ia mengeluhkan dosen pembimbingnya.

Cara cepat yang umumnya digunakan dalam menilai seseorang
1. Persepsi Selektif : karakteristik apa pun yang membuat seseorang, objek, atau peristiwa yang bisa dikenali dengan mudah menigkatkan kemungkinanya untuk di terima. Mengapa ? karena tidak mungkin bagi kita untuk menerima bagi semua yang kita lihat hanya stimulus tertentu yang bisa di terima.
2. Efek Halo : ketika kita membuat kesan umum tentang seorang individu bedasarkan sebuah karakteristik seperti: kepandaian, keramahan, atau penampilan. Contohnya ketika para siswa menilai guru mereka, para siswa mungkin memberikan keunggulan untuk satu sifat antusiasme dan membuat seluruh evaluasi mereka dipengaruhioleh bagaimana mereka menilai guru tersebut berdasarkan itu. Jadi , seorang guru bisa jadi pendiam, percaya diri, pandai, dan sangat cakap tetapi jika gayanya kurang bersemangat para siswa mungkin akan memberikan nilai yang redah untuk guru tersebut.
3. Efek efek kontras : kita tidak mengevaluasi seseorang secara terisolasi . reaksi kita terhadap sesorang individu dipengaruhi oleh individu lain yang baru kita temui. Contoh : mengenai bagaimana efek halo bekerja adalah situasi wawancara dimana seorang pewawancara melihat serombongan pelamar kerja. Seorang kandidat cenderung menerima evaluasi yang lebih baik bila didahului oleh para pelamar dengan kemampuan menengah dan evaluasi yang kurang baik bila di dahulukan oleh pelamar pelamar yang unggul.
4. Proyeksi : mudah untuk menilai individu lain bila kita beranggapan bahwa mereka mirip dengan diri kita. Sebagai contoh, bila anda menginginkan tantangan dan tanggung jawab dalam pekerjaan anda, anda berasumsi bahwa individu lain mengiginkan hal yang sama. Atau anda adalah orang yang jujur dan bila di percaya, jadi anda menganggap oranglain juga jujur dan dapat di percaya kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik karakteristik diri sendiri dengan individu yang lain ini yang disebut proyeksi.
5. Pembentukan Stereotip : ketika menilai seorang berdasarkan persepsi tentang kelompok dimana ia tergabung. Dimana ia tergabung, kita menggunakan jalan pintas yang disebut pembentukan stereotip. Sebagai contoh, anggap saja anda adalah seorang manajer penjualan yang sedang mencari individu untuk menempati posisi penjualan di wilayah anda.


Aplikasi Spesifik Jalan Pintas dalam Organisasi
1.       Wawancara Kerja (Employment interview)
Wawancara kerja seringkali membuat penilaian menjadi tidak akurat karena persesi yang terbentuk diakibatkan oleh kesan awal.
2.       Ekspektasi kinerja
Orang-orang berusaha untuk mensahkan persepsi mereka tentang kenyataan bahkan ketika persepsi tersebut salah. Self fullfilling prophecy atau pygmalion effect, telah berkembang untuk mendeskripsikan kenyataan bahwa perilaku seorang individu ditentukan oleh harapan individu lain.
3.       Pembentukan profil etnis
Pembentukan stereotype dimana satu kelompok individu dipilih, biasanya berdasarkan ras atau etnis untuk penyelidikan intensif, inspeksi ketat atau investigasi.
4.       Evaluasi kinerja
Sebuah penilaian dari kinerja seorang karyawan bisa penilaian obyektif.

Hubungan Antara Keputusan Individu dan Persepsi
Persepsi memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan.

Pembuatan Keputusan dalam Organisasi
The Rational Model, Bounded Rationality, and Intuition :
1.       Rational  decision making
Mendeskripsikan bagaimana individu harus berperilaku untuk memaksimalkan hasil. Rational model tidak digunakan dalam praktek nyata. Berikut langkah-langkah dalam rational making model :
a.       Mendefinisikan masalah
b.      Mengidentifikasi kriteria keputusan
c.       Mengalokasikan kriteria-kriteria yang berbobot
d.      Membuat berbagai alternative
e.      Mengevaluasi alternative
f.        Memilih alternative terbaik
2.       Rasionalitas yang dibatasi
suatu proses dalam pembuatan keputusan dengan menggunakan model yang sederhana lalu kemudian disaring sehingga nantinya menjadi mudah untuk dipahami.
3.       Intuition
Sebuah proses bawah sadar yang berasal dari pengalaman yang disaring dan proses ini tidak selalu terlepas dari analisis rasional. Intuisi juga memberi pengaruh kuat pada pembuatan keputusan.

Common Biases and Errors in Decision Making

1.      Overconfidence Bias

Adalah individu yang sering melebih-lebihkan kinerja serta kemampuannya.Individu ini sering disebut memiliki kemampuan intelektual yang lemah.Adanya kepercayaan diri yang berlebihan kemungkinan besar muncul ketika anggota-anggota organisasi  mempertimbangkan masalah-masalah yang berada diluar bidang keahlain mereka.

Contoh : Pak Joni memiliki keahlian dibidang teknik mesin,namun keahlian ini sangat ditonjolkan berlebihan di depan atasannya.Ketika atasannya datang,barulah dia memainkan keahliannya sebegitu baiknya.Namun saat atasannya pergi,ia hanya bekerja dengan setengah-setengah dan tidak menggunakan keahlian yang dimilikinya dengan maksimal.

2.      Anchoring bias

Kecenderungan untuk terpaku pada informasi awal,kemudian gagal untuk menyesuaikan diri dengan informasi berikutnya.

Contoh : seorang manajer iklan ingin melakukan sebuah kontrak bisnis dengan customernya yaitu pemilik Gudang Garam,karena ingin bisnis nya lebih dikenal lagi.Manajer ini beranggapan bahwa penampilan customernya ini sedemikian rapi,sopan,dan berkepribadian yang sopan.Ternyata,saat datang,manajer ini kaget melihat pemilik Gudang Garam yang hanya memakai sandal jepit,berpakaian kaos oblong,rambut berantakan,dll.Akhirnya informasi yang ia siapkan seketika hilang diingatannya ,hanya karena kaget melihat penampilan customernya.

3.      Confirmation bias

Kecenderungan untuk mencari informasi yang menguatkan kembali pilihan masa lalu dan mengurangi informasi yang bertentangan dengan penilaian-penilaian masa lalu.Mengumpulkan informasi secara selektif dengan memilah-milah informasi yang ada.

4.      Availability bias

Kecenderungan seseorang untuk mendasarkan penilaian mereka pada informasi yang tersedia bagi mereka.

Contoh : Beberapa mahasiswa lebih memilih makan di depot kita,daripada makan di pinggir jalan yang baru buka,karena depot kita menurut para mahasiswa tempatnya bersih dan makanannya juga enak,sedangkan makanan pinggir jalan yang baru masih belum ada kejelasan informasinya.

5.      Escalation of commitment

Sikap yang mempertahankan sebuah keputusan meskipun terdapat bukti nyata bahwa keputusan tersebut salah.

Contoh : para pejabat pemerintah yang tetap memilih untuk melakukan korupsi,padahal mereka tau keputusan yang mereka buat itu salah dan merugikan Negara,tapi mereka lebih memilih untuk kepentingan dirinya sendiri.

 6.      Randomness Error,

Yaitu kecenderungan seseorang untuk mempercayai bahwa dia dapat memprediksikan apa yang kemungkinan terjadi di masa yang akan datang.
Contohnya : ketika seseorang mahasiswa berpikir bahwa “ohh ini dosen Akuntansi Manajemen yang tidak akan meluluskan kita” disini dia mempercayai bahwa ia dapat memprediksikan masa depan, hal ini berimbas terhadap keputusannya, alhasil ia membatalkan PRSnya hanya karena persepsinya seperti itu. Dan penilaiannya terhadap dosen tersebut jadi buruk.
7.       Risk Aversion (Menghindari resiko)
Yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih memilih hal yang pasti dibandingkan hal yang beresiko tinggi.
Contohnya : Bapak A memiliki sebuah restoran yang sudah sangat ramai dikunjungi konsumen, namun ia tidak berani melakukan inovasi-inovasi yang baru misalnya mengenai pembaharuan resep maupun expand, keputusan Bapak A ini ia tidak berani mengambil resiko apabila inovasinya tidak di terima konsumen.
8.      Hindsight Bias (Memandang ke masa lampau),
yaitu kecenderungan seseorang untuk melihat suatu hasil sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan, serta melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam memprediksikan hal tersebut sebelumnya.
Contohnya : ketika mahasiswa A mengikuti mata kuliah AKBI semester 2, dia tidak lulus. Dia lalu sering berkata “kenapa aku tidak lulus,padahal aku sudah berjuang”

Pengaruh dalam Pengambilan Keputusan : Individual Differences dan Organizational Constraints
Individual Differences
1.      Personality
Penelitian tentang kepribadian dan pengambilan keputusan menunjukkan bahwa kepribadian seseorang  mempengaruhi keputusan seseorang.
Contohnya : seseorang yang memiliki kepribadian yang santai serta easy going, apabila ia dihadapkan terhadap suatu masalah, ia akan bersikap tenang dan mengambil keputusan tidak secara tergesa-gesa.
2.      Gender
Study  selama dua puluh tahun menemukan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu daripada laki-laki dalam menganalisis masa lalu, sekarang, dan masa depan.
Contohnya : Amel saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang pria sudah lebih dari 6 tahun, si amel ini sering sekali memikirkan masalah-masalah mengenai hubungannya, ia berpikir sendiri mengenai kapan menikah, bagaimana perlakuan pacarnya di masa lalu, bagaimana hubungannya sekarang, ketika pacarnya belum kerja,dsb. Padalan belum tentu si cowoknya ini berpikiran sampai kea rah sana.
3.      Mental Ability
Orang-orang dengan tingkat mental yang lebih tinggi dari kemampuan mental yang dapat memproses informasi lebih cepat, memecahkan masalah lebih akurat, dan belajar lebih cepat.
Contohnya : Linda merupakan orang yang memliki mental yang kuat, ketika ia mengikuti kegiataan kepanitiaan, ia dikatakan bahwa dekorasinya kurang baik, hal ini menjadikan linda berpikir keras,dan segera mencari ide-ide yang lebih baik, disini ia dalam mengatasi permasalahan tersebut segera memikirkan bagaimana ia memperbaiki kesalahan tersebut. Apabila si linda ini memiliki mmental yang lemah maka ia akan merasa down mungkin akan menangis, dan lamban dalam mengambil tindakan.
4.      Cultural Differences
Latar belakang budaya dalam pengambilan keputusan secara signifikan dapat mempengaruhi pemilihan masalah, kedalaman analisis, pentingnya logika dan rasionalitas, dan apakah keputusan organisasi harus dibuat otokratis oleh manager  atau kolektif dalam group.

Organizational Constraints
1.      Performance Evaluation
Contohnya : hendra  merupakan seorang direktur dalam perusahaan beton, ketika ia mendengar  hal-hal yang negative dari salah satu karyawannya, maka ia segera mengambil tindakan agar hal negative tersebut tidak terdengar oleh atasannya lagi. Hendra akan mengevaluasi kegiatan produksi apa yang tidak sesuai dengan prosedur dan mencari jalan keluarnya.

1.     Reward Systems
Reward system dalam organisasi mempengaruhi pengambilan keputusan dengan menyarankan pilihan mana yang mempunyai payoff yang lebih baik.  .
2.     Formal Regulations
Semua organisasi kecuali organisasi yang kecil membuat aturan untuk ditaati dan membuat karyawannya untuk bertingkah sesuai dengan aturan itu.Dengan aturan yang dibatasi, tentu saja mereka membatasi pilihan keputusan.
3.     System-Imposed Time constraints
Hampir semua keputusan penting ada deadline nya.Kondisi ini sering membuat sulit, jika mungkin, bagi para manajer untuk mengumpulkan semua informasi yang mereka mungkin ingin sebelum membuat pilihan akhir.
4.     Historical Precedents
Pilihan yang dibuat hari ini sebagian besar merupakan hasil dari pilihan yang dibuat selama bertahun-tahun.

Etika dalam Pembuatan Keputusan
Etika juga termasuk hal yang perlu diperhatikan dalam segala bentuk pembuatan keputusan. Ada tiga kriteria yang digunakan untuk melakukan framing keputusan :
1.     Pembuatan keputusannya semata mata berdasarkan outcomes, untuk menghasilkan sesuatu yang baik dalam jumlah yang besar yang dikenal dengan Utilitarianism. Umumnya dapat ditemukan dalam pembuatan keputusan berbisnis.
2.     Pembuatan keputusan yang didasarkan pada hak-hak yang dimiliki, seperti saling menghargai dan melindungi hak-hak dasar tiap individu. Hal ini diterapkan untuk memberikan kepada whistle-blowers, yaitu individu yang membuka masalah organisasi secara tidak pantas pada media atau pemerintah menggunakan hak untuk berbicaranya.
3.     Pembuatan keputusannya berdasarkan melaksanakan tiap peraturan yang dibuat secara adil dan fair, atau adanya keseimbangan dalam distribusi keuntungan dan biaya. Umumnya digunakan oleh Serikat pekerja, agar mereka mendapatkan upah yang sama dengan job desk yang dilaksanakan.

Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh tiap tiap kriteria :
·        Utilitarianism :
o   (-) mengesampingkan hak-hak yang dimiliki oleh individu.
o   (+) pencapaian efisiensi dan produktivitas
·        Fokus pada hak :
o   (-) mencegah tercapainya efisiensi dan produktivitas
o   (+) perlindungan pada individu dari kecelakaan dan mengutamakan kebebasan dan privasi
·        Fokus pada hukum :
o   (-) mengurangi inovasi, produktivitas dan pengambilan resiko.
o   (+) perlindungan pada individu yang lebih lemah

Meningkatkan kreativitas dalam Pembuatan Keputusan
          Pembuatan keputusan yang rasional juga membutuhkan kreativitas, yaitu kemampuan untuk membuat gagasan ataupun ide yang berguna. Kreativtias ini membuat seorang pembuat keputusan menjadi lebih mengenal dan mengerti permasalahan, yang bahkan tidak dimengerti oleh orang lain. 
Tiga komponen utama dalam kreativitas adalah :
1.     Expertise (Keahlian), menjadi dasar dari segala jenis pekerjaan kreatif. Potensi untuk menjadikan sesuatu yang kreatif bisa terjadi apabila seseorang mempunyai kemampuan, pengetahuan, keahlian di bidang yang ditekuninya.
2.     Creative thinking skills (Kemampuan berpikir kreatif), karakteristik yang dimiliki seseorang terkait dengan kreatifitas, penggunaan analogi, dan kemampuan untuk melihat sesuatu yang sama dalam hal yang berbeda.
3.     Intrinsic task motivation (Motivasi mendasar), yaitu kemauan untuk mengerjakan sesuatu karena menarik, memuaskan, menyenangkan, dan menantang. Hal inilah yang umumnya terkait pada seseorang yang menyukai pekerjaan sampai pada titik menjadikannya sebagai suatu obsesi.


Contoh Kasus :

Suatu organisasi/perusahaan diberikan kepercayaan untuk menjalankan suatu project di luar kota. Dan diputuskan project berjalan selama satu bulan. Dan ternyata saat project sedang berjalan di tengah-tengah proses, terjadi permasalahan kekurangan personil untuk mengatasi project tersebut dan dikhawatirkan project tidak akan selesai pada tenggat waktu yang telah ditentukan dan waktunya semakin mepet.
Maka untuk memperlancar project tersebut pimpinan dapat memutuskan untuk menambahkan personilnya untuk memperlancar project tersebut walaupun akan ada pengeluaran tambahan untuk pengiriman personil tersebut bagi organisasi tersebut.










1 komentar:

  1. Lucky Club - Lucky Club - Live Casino Games
    Lucky Club. Lucky Club is a free, real time casino. Play & Win with Lucky Club - Casino Games! The fun never stops. Sign-up today and start playing! luckyclub.live

    BalasHapus