Values, Attitude, dan Job Satisfaction
Values
Keyakinan dasar bahwa suatu modus
(cara) perilaku atau kedaan akhir eksistansi yang kas lebih disukai secara
pribadi atau social, dibandingkan dengan modus (cara) perilaku atau keadaan
akhi eksistensi kebalikan atau lawannya.
Contoh :
1. Apakah hukuman mati itu benar atau
salah ?
2. Jika seseorang menyukai kekuasaan ,
apakah hal itu baik atau buruk ?
Jawaban atas kedua pertanyaan tersebut
mengandung unsur nilai.
Sistem Nilai :
Suatu
hirarki yang didasarkan pada suatu peringkat nilai-nilai seseorang individu
dalam nilai-nilai intensitasnya.Semua dari kita mempunyai hirarki (anak tangga)
nilai yang membentuk sistem nilai kita.Sistem ini dapat berupa : kebebasan
,kesenangan, hormat diri , kejujuran , kepatuhan dan kesamaan.
Pentingnya Nilai
Nilai
penting dalam perilaku organisasi karena nilai meletakkan pondasi untuk
memahami sikap dan motivasi serta nilai mempengaruhi persepsi kita.Nilai
biasanya mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupannya.
Contoh :
Ada seorang yang pada masa kecilnya sering ditindas oleh teman-temnanya,
akibatnya ketika ia sudah dewasa , ia menjadi orang yang tertutup , pendiam ,
tidak suka bergaul. Sikap dari orang tersebut akan berdampak pada kehidupan
sosialnya baik dalam lingkungan keluarga maupan lingkungan pekerjaannya.
Tipe Nilai
Milton
Rokeach menciptakan Rokeach Value Survey (RVS) yang terdiri atas 2 nilai yaitu
:
a.
Terminal
Values : Nilai yang dipilih untuk diwujudkan sebagai kenyataan yang pada
umumnya adalah refleksi dan berhubungan dengan nilai-nilai objektif dan
positif.
Contoh
: Saya ingin sukses agar saya memiliki kehidupan yang baik di masa depan.
b.
Instrumental
Values : Nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan dari nilai dasar.
Contoh
: Jika saya ingin sukses ,saya harus memiliki pendidikan yang tinggi (lulusan
sarjana) dan memiliki penghasilan yang banyak.
Generational Values
Cohorts Kontemporer telah melakukan analisis
terintegrasi mengenai nilai kerja yang dibagi menjadi empat kelompok :
a.
Veterans : mulai memasuki dunia kerja pada tahun
1950 atau awal 1960-an di mana pekerjanya berumur lebih dari 65 tahun. Para
pekerja biasanya pekerja keras, memiliki keinginan hidup nyaman, dan setia pada
organisasi.
b.
Boomers : mulai memasuki dunia kerja pada
tahun 1965- 1985 di mana pekerjanya berumur pertengahan 40 sampai pertengahan
60 tahun. Para pekerja biasanya sukses, berambisi, setia pada pekerjaanya,
berprestasi, dan tidak menyukai otoritas.
c.
Xers : mulai memasuki dunia kerja
pada tahun 1985 - 2000 di mana pekerjanya berumur akhir 20 sampai awal 40
tahun. Para pekerja biasanya kehidupan dan pekerjaan seimbang, dan setia pada
suatu hubungan.
d.
Nexters : mulai memasuki dunia kerja pada
tahun 2000 sampai sekarang di mana pekerjanya berumur di bawah 30 tahun. Para
pekerja biasanya penuh keyakinan, sukses dalam hal keuangan, setia kepada diri
sendiri dan sesama.
Values Across Cultures
Tiap negara memiliki perbedaan budaya, begitu
pula nilai yang dikandungnya. Untuk dapat menilai dimensi kultur atau budaya,
Hofstede menciptakan kerangka Hofstede yaitu
1.
Power Distance
Adalah ketidaksamaan
distribusi kekuatan dalam institusi dan organisasi antara satu orang dengan
orang lainnya yang disebabkan oleh hal-hal seperti status sosial, gender, ras,
pendidikan, umur dan sebagainya.
Contoh : jabatan yang dimiliki oleh seorang berumur 22 tahun dengan seorang
yang berumur 30 tahun, tapi orang lain menganggap bahwa yang berumur 30 tahun
lebih dapat dipercaya sehingga pekerjaan banyak yang dipertanggungjawabkan
kepada yang lebih tua.
2.
Individualisme vs. Kolektivisme
Individualisme adalah di mana
seseorang lebih mementingkan kepentingan pribadi dibanding kepentingan
kelompok. Sebaliknya, kolektivisme adalah dimana seseorang lebih mementingkan
kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadinya.
3.
Kuantitas kehidupan vs. Kualitas
kehidupan
Kuantitas kehidupan dinilai
dari daya saing, ketegasan, ambisi, dan akumulasi harta kekayaan dan materi.
Sedangkan kualitas kehidupan dinilai dari hubungan nilai masyarakat dan
kualitas hidup atau kesejahteraan. Di poin ini sering juga disebut sebagai
maskulinitas (kuantitas kehidupan) vs. Feminitas (kualitas kehidupan).
4.
Penghindaran ketidakpastian
Adalah kemampuan untuk
beradaptasi dengan ketidakpastian dan ambiguitas. Jika penghindaran
ketidakpastiannya kuat maka orang lebih memilih aturan eksplisit dan aktivitas
secara formal terstruktur, dan karyawan cenderung tinggal lebih lama dengan
majikan yang sekarang. Tetapi apabila penghindaran ketidakpastiannya lemah maka
orang lebih memilih aturan implisit atau fleksibel atau pedoman dan kegiatan
informal. Karyawan cenderung lebih sering berganti majikan.
5.
Orientasi jangka panjang vs.
Jangka pendek
Dalam masyarakat yang
berorientasi jangka panjang, orang-orangnya cenderung memperhatikan tindakan
nilai orang dan sikap yang mempengaruhi masa depan seperti kegigihan /
ketekunan, hemat, dan malu. Untuk masyarakat yang berorientasi jangka pendek, tindakan
nilai orang dan sikap yang dipengaruhi oleh masa lalu atau masa kini seperti laporan
normatif, stabilitas langsung, melindungi wajah sendiri, menghargai tradisi,
dan balasan dari salam, nikmat, dan hadiah lebih diperhatikan.
The GLOBAL Framework for Assessing Culture
1.
Ketegasan
Perilaku dimana seseorang
dituntut untuk menjadi tangguh, konfrontatif, tegas dan kompetitif dibandingkan
sederhana dan lembut. Contoh
apabila ada evaluasi dalam suatu panitia maka seharusnya semua menyebutkan
dengan benar kesalahan yang dilakukan bukan malah diam dan tidak melakukan
apa-apa.
2.
Orientasi Masa Depan
Adalah orientasi tehadap masa
depan seperti perencanaan, investasi masa depan dan menunda kepuasan.
3.
Diferensiasi gender
Perbedaan antar gender dalam
masyarakat bisa sejauh mana.
4.
Penghindaran ketidakpastian
Ketergantungan masyarakat
pada norma-norma dan prosedur untuk mengurangi ketidakpastian peristiwa masa
depan.
5.
Power Distance
Didefinisikan sejauh mana
anggota masyarakat mengharapkan kekuatan untuk tidak terbagi secara merata.
6.
Individualisme atau kolektivisme
Sejauh mana individu didorong
oleh lembaga-lembaga sosial untuk diintegrasikan ke dalam kelompok-kelompok
organisasi dan perkumpulan sosial.
7.
Kolektivisme in-group
sejauh mana anggota
masyarakat bangga kepada keanggotaan dalam kelompok kecil, seperti keluarga
mereka, teman-teman dekat dan organisasi di mana mereka bekerja.
8.
Orientasi performa
Mengacu pada pemberian
penghargaan kepada kelompok untuk peningkatan kinerja dan keunggulan.
9.
Orientasi kemanusiaan
Sejauh mana masyarakat
menghargai individu dengan adil, altruistik, murah hati, peduli dan baik kepada
orang lain.
IMPLICATION
FOR OB
Kita juga mempelajari
tentang bagaimana pertukaran budaya konsiderasi di dalam pengaturan manajemen
dan mencari informasi tentang persilangan budaya.Jadi kita harus memahami
tingkah laku orang yang berbeda Negara.
ATTITUDES
Attitude adalah
penyataan evaluatif (evaluative statements) yang dapat menguntungkan maupun
tidak menguntungkan, dan mengenai obyek, manusia, atau kejadian.Atittude
menggambarkan bagaimana perasaan dengan suatu hal.
Contoh : saya
mengatakan bahwa saya akan lulus 3,5 tahun dalam program manajemen bisnis,
dalam perkataan saya, maka saya akan melakukan attitude seperti yang saya
katakana, yaitu dengan belajar giat.
3 komponen attitude :
cognition, affect, dan behavior.
Contoh dari cognition :
kepercayaan mengatakan bahwa “pria lebih tinggi derajatnya disbanding wanita”
hal ini merupakan value statement.
Affect : adalah
emosional atau bagian perasaan dari attitude, selain itu affect dapat menjadi
pemicu dari behavioral outcomes (hasil perilaku).
Behavioral
component dari attitude berhubungan dengan tujuan untuk berperilaku di jalan
yang pasti terhadap seseorang atau suatu hal.
Dalam suatu organisasi
attitude termasuk hal yang penting,karena mempengaruhi perilaku pekerjaan.
Tipe-Tipe dari Attitude
:
Fokus perhatian kita pada
organization behavior yaitu work-related
attitude,yang dapat menjadi evaluasi positif maupun negative pekerja berkaitan
dengan aspek lingkungan kerjanya.
Organization
Behavior berkonsentrasi pada tiga attitude yaitu: job satisfaction, job
involvement dan organizational commitment.
Penjelasannya
:
·
Job
satisfaction : kondisi mengenai sikap individu secara
umum berdasarkan pekerjaannya. Seseorang yang mempunyai tingkatan tinggi pada
job satisfaction pasti memiliki sikap yang baik pada pekerjaannya dan sebaliknya.
Contohnya:
pekerja A bekerja pada sebuah perusahaan, perusahaan tersebut memberikan
kompensansi yang cukup kepada pekerja tersebut, jadi pekerja tersebut memilki
job satisfaction yang tinggi.
·
Job
involvement :
merupakan sejauh mana seseorang mengidentifikasi pekerjaannya dan secara
aktif berpartisipasi dalam pekerjaan dan menganggap penampilannya atau
kinerjanya untuk harga dirinya.
Contoh :
Pekerja A memiliki kegemaran di bidang fashion, untuk itu ia mencari pekerjaan
sesuai dengan passionnya misalnya di MAP, jadi ia tetap bisa berdandan seperti
yang di inginkannya sehari-hari.
·
Organizational
commitment : kondisi sejauh mana karyawan dapat
mengidentifikasi dengan sebuah organisasi tertentu dan tujuannya, dan ada
keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi,dan juga berkaitan
dengan loyalitas pekerja dengan pekerjaannya.
Contoh :
seorang DPR akan berkomitmen bahwa ia tidak akan mencemarkan nama baik Negara
dan menghindari korupsi, jadi ia akan menjaga perilakunya.
Attitude dan Consistency
Pada
umumnya,individu berusaha untuk mendamaikan perilaku mereka yang berbeda dan
menyelaraskan sikap serta perilaku sehingga individu muncul rasional dan
konsisten. Jika tidak terjadi konsistensi, maka individu akan memulai
kembali untuk menyeimbangkannya agar
tetap konsisten.
Cognitive Dissonace Theory
Cognitive dissonance lebih
mengarah pada adanya beberapa ketidakcocokan yang menyebabkan individu dapat
merasakan beberapa diantara attitude, atau antara attitude dan kebiasaan.
Festinger mengatakan bahwa beberapa dari ketidak konsistenan itu membuat tidak
nyaman dan individu akan berupaya mengurangi perselisihan dan ketidaknyamanan.
Bahkan individu akan bersembunyi pada kondisi yang stabil dimana tingkat
prselisihan rendah. Harapan untuk mengurangi perselisihan yang ditentukan dari
kepentingan dari pengaruh individu tersebut terlibat dalam perselisihan.
Measuring
the A-B relationship
Variabelmoderat Perantara
yang terkuat telah ditemukan untuk menjadi yang terpenting dalam attitude
adalah kekhususan, aksesbilitas, tekanan sosial, ataupun pengalaman langsung
mengenai attitude.
Attitude menjadi penting karena:
1.
mencerminkan
nilai dasar. Contohnya kepuasan seorang pegawai dalam pekerjaan terhadap turn over pegawai tersebut;
2.
kepentingan
pribadi. Kita akan mudah dalam mengingat attitude yang sering diekspresikan.
Sehinnga ketika kita mengingat attitude tersebut maka kita dapat membentuk
kebiasaan / kelakuan yang harus digunakan dengan mudah;
contohnya : kebiasaan untuk tidak berbicara kotor. Hal
ini telah ditanamkan oleh lingkungan, keluarga. Kebiasaan yang telah lama di
tanamkan akan terbawa sampai besok.
3.
penilaian
terhadap individu atau kelompok. Ketidak cocokan antara attitude dan kebiasaan
akan terjadi ketika ada lingkungan menekan untuk berperilaku tertrntu untuk
menahan kekuatan yang tidak biasa. Hal ini cendrung membentuk kebiasaan dalam
organisasi. Contohnya pekerja yang menginginkan kenaikan gaji, apabila tidak
dituruti maka akan melakukan demo bahkan resend.
Pertimbangan individu terhadap attitude cendrung
menunjukan kekuatan hubungan dengan kebiasaan.
Self-perception
theory meskipun studi tentang hubungan
antara attitude dengan kebiasaan memiliki hasil yang positif , para peneliti
menerima korelasi yang tinggi dengan mengikuti arah yang lain yaitu kebiasaan
tidak mempengaruhi attitude. Pandangan ini yang disebut sebagai self-perception
theory.
Sudah mendapat dukungan.Ketika hubungan traditional
antara attitude-kebiasaan adalah hubungan yang positif, maka hubungan tersebut
sangat kuat.Hal ini bisa benar terutama jika attitude lemah dan ambigu.
An
Application: Attitude Survey
Memperkenalkan bahwa pengetahuan tentang attitude para
pekerja bisa membantu perusahaan untuk memprediksi kebiasaan para
pekerja.Bagaimana cara perusahaan mengetahui cara mendapat informasi itu yang
disebut dengan attitude survey.
Contoh
kasus : perusahaan melakukan survey menggunakan kuisioner kepada para pekerja
di kantornya mengenai apakah sistem kompensasi yang dilakukan berpengaruh
terhadap kepuasan kerja karyawan. Apabila dalam hasil survey ini karyawan
mengatakan bahwa kompensasi kurang efektif, maka perusahaan dapat menyimpulkan
bahwa kebiasaan karyawan untuk bekerja demi mendapat reward kurang. Jadi
perusahaan akan merubah sistem kompensasinya dan lebih melibatkan banyak
karyawan untuk kebiasaan turut aktif dalam mendapatkan reward.
Attitudes
and Workforce Diversity
merefleksikan
pergantian perspektif tentang RAS, jenis kelamin, dan issue keragaman lainnya.
Job Satisfaction
Measuring Job
Satisfaction
Kenyamanan kerja merupakan perilaku dasar terhadap
pekerjaan seseorang. Pekerjaan
memerlukan interaksi dengan rekan kerja dan bos, mengikuti aturan dan kebijakan
organisasi, memenuhi standarts kinerja, hidup dengan kondisi kerja yang sering
kurang dari ideal, dan sejenisnya.
Dua pendekatan yang
paling
banyak
digunakan adalah
1. Peringkat tunggal global (single global rating)
Metode peringkat
global
tunggal tidak lebih
dari
meminta individu untuk
menanggapi satu pertanyaan, seperti "semua
hal dipertimbangkan, seberapa puaskah Anda dengan pekerjaan Anda?"
Responden kemudian membalas dengan
melingkari angka antara satu dan lima yang sesuai
dengan
jawaban
dari
"sangat
puas”
untuk sangat puas
2.
Skor
penjumlahan (summation score)..
Metode ini
mengidentifikasi elemen kunci dalam pekerjaan dan meminta tentang
perasaan
karyawan masing-masing. Faktor-faktor khas yang akan dimasukkan adalah sifat pekerjaan, supervisi, gaji sekarang, kesempatan
promosi,
dan
hubungan
dengan rekan kerja.
How Satisfied
Are People in Their Jobs?
Penurunan ke[uasan kerja ini disebabkan oleh:
·
Tekanan untuk meningkatkan
produktivitas dan memenuhi tenggat waktu ketat.
·
Kontrol yang kurang terhadap
pekerjaan.
The effect of
Job Satisfaction on Employee Performance
Kepentingan
manager dalam kepuasan kerja cenderung berpusat pada efeknya terhadap
kinerja karyawan. Dampak kepuasan kerja
terhadap
produktivitas
karyawan,
absensi, dan turnover
·
Kepuasan
dan Produktivitas
Puas
pekerja tidak selalu lebih produktif. Produktivitas pekerja yang lebih tinggi
dalam organisasi dengan pekerja lebih puas.
·
Kepuasan
dan Absensi
Kepuasan
karyawan dengan memiliki absen yang sebisa mungkin sedikit dihindari.
·
Kepuasan
dan Perputaran
Karyawan
puas cenderung untuk berhenti. Organisasi mengambil tindakan untuk
mempertahankan pemain yang tinggi dan untuk menyaring pemain yang lebih rendah..
How Employees
Can Express Dissatisfaction
Ketidakpuasan
karyawan dapat dinyatakan dalam beberapa cara sebagai berikut:
·
Keluar: Perilaku diarahkan
meninggalkan organisasi, termasuk mencari posisi baru serta mengundurkan diri.
·
Suara: Secara aktif dan
konstruktif berusaha memperbaiki kondisi, termasuk menyarankan perbaikan,
mendiskusikan masalah dengan atasan, dan beberapa bentuk kegiatan serikat.
·
Loyalitas: pasif tetapi
optimis menunggu kondisi membaik, termasuk berbicara untuk organisasi dalam
menghadapi kritik eksternal dan mempercayai organisasi dan manajemen untuk
"melakukan hal yang benar"
·
Abaikan: pasif membiarkan
kondisi memburuk, termasuk abseenteism kronis atau keterlambatan, mengurangi
usaha, dan meningkatkan tingkat kesalahan.
Job Satisfaction
and OCB
Kepuasan kerja harus menjadi penentu utama
perilaku kewargaan organisasional karyawan (OCB). OCB diasumsikan terkait erat
dengan kepuasan. Ada hubungan keseluruhan sederhana antara kepuasan kerja dan
OCB. Tapi kepuasan tidak berhubungan dengan OCB ketika keadilan dikendalikan.
Job Satisfaction
and Customer Satisfaction
karyawan
puas dapat meningkatkan kepuasan dan
loyalitas pelanggan. Karyawan yang
memiliki kontak teratur dengan pelanggan melaporkan bahwa kasar, ceroboh,
terlalu menuntut pelanggan akan memberi
efek negatif kepuasan kerja karyawan.
CONTOH KASUS
‘Bunuh Diri’ Massal di
PT.FOXCONN China
Sumber: Ditulis oleh Malcolm Moore (http://erabaru.net/era-baru/29114)
Diunduh : Selasa, 19 Juni 2012, 09:04
Waktu peristiwa : tahun 2010 di China
PT. FOXCONN merupakan perusahaan yang memproduksi barang-barang eleketronik
seperti, Apple, Nitendo, Sony dan HP. Awal tahun 2010, dikejutkan dengan
terjadinya bunuh diri yang dilakukan 18 orang pekerja. Bunuh diri missal ini
dilakukan dengan melompat dari atas puncak gedung perusahaan dengan 14 orang
yang tewas.
Protes yang dilakukan pekerja pada bulan Januari yakni dikarenakan manajer
perusahaan memutuskan untuk menggeser sekitar 600 pekerja untuk lini produksi
baru, membuat pembungkus computer Acer, perusahaan asal Taiwan. “kami disuruh
bekerja tanpa pelatihan apapun dan dibayar sedikit demi sedikit” kata salah
seorang pekerja memprotes yang tidak meminta disebutkan namanya. “ jalur
perakitan sangat cepat dan hanya satu hari tangan kami semua telah lecet dan
kulita ditangan kami menghitam, pabrik itu pun sudah penuh debu dan tida ada
yang bisa menahan” ujarnya menambahkan.
Beberapa laporan dari dalam pabrik Foxconn telah menyarankan bahwa sementara
perusahaan lebih maju daripada banyak pesaingnya, dengan menggunakan gaya
militer dan banyak para pekerja yang tidak sanggup bertahan. Pabrik unggulan
Foxconn di Longhua, sebanyak 5% dari pekerja atau 24.000 orang pekerja
berhenti.
“Karen akami tidak tahan, kami mogok” kata pekerja itu. “ini bukan tentang
uang, namun karena kami merasa tidak punya pilihan. Pada awalnya, para manajer
mengatakan siapa saja yang ingin berhenti dapat bayaran satu bulan gaji sebagai
kompensasi. Tapi kemudian mereka menarik tawaran itu. Jadi kami pergi kea tap
dan mengancam bunuh diri missal”. Pekerja mengatakan bahwa Foxconn awalnya
menolak untuk bernegosiasi, tetapi bahwa para pekerja diperlakukan cukup baik
oleh polisi dan pasukan pemadam kebakaran. Para pekerja akhirnya dibujuk turun
setelah dua hari diatas pabrik berlantai tiga di Wuhan oleh manajer Foxconn dan
pejabat parta komunis China.
Seorang juru bicara Foxconn dikonfirmasi tentang protes itu, dan mengatakan
bahwa insiden itu “berhasil dan diselesikan dengan damai setelah diskusi antara
pekerja, pejabat Foxconn local dan perwakilan pemerintah daerah. Dia
menambahkan bahwa 45 karyawan Foxconn telah memilih untuk mengundurkan diri dan
sisahnya telah kembali bekerja. “kesejahteraan karyawan kami merupakan
prioritas utama kami dan kami berkomitmen untuk memastikan bahwa semua karyawan
diperlakukan adil.” Katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar